Mengutuk diri sendiri

Saat orang-orang di sekitarmu menekan dan menekan

seolah dunia ini sempit

ditambah lagi kita tak tahu pada siapa harus memberi tahu

aku mencoba mencari celah

celah dimana agar aku bisa bernafas bebas

aku ingin mengutuk diriku sendiri

untuk siapa aku hidup, untuk keluarga?

untuk mereka?

Tuhan, apakah aku bodoh?

aku seperti  boneka, dibuat mainan

dihempas ketika sudah membosankan

Aku semakin berantakan

Tujuanku terlalu jauh menyimpang

Akupun takut untuk meraihnya kembali

Tuhan, kirimkan aku cahaya

Cahaya yang tak hanya menerangi

tapi juga mau menemaniku di setiap gelapnya jalanan

cahaya yang mampu ku titipkan cerita rumitku

cahaya, jangan kau redup

ku kan selalu membutuhkanmu

tetaplah kau setia, ada tanpa ku minta

 

Iklan

Tak ada lagi suara-suara ombak yang meninabobokkan tidurku

Tak ada lagi belaian angin khas pantai di malam hari

Tak ku dengar lagi suara binatang malam yang sedikit mengerikan

Tempat yang nyaman,

tempat yang dingin

akankah ku menyentuhmu kembali

Tempat yang mampu meresonansikan kenangan-kenangan

jauh dalam mimpiku,

ku temui wajah-wajah yang tak asing

ku dapati mereka dalam kebahagiaan

mereka tersenyum dalam sukanya

Dan seolah mimpi itu tak ingin dibangunkan

agar aku tetap larut dalam kebahagiaan mereka

tapi sayang,

aku tersadar,

ternyata aku sendirian

aku harus melawan ketakutan

siapa yang tahu?

kalau bukan diriku dan Tuhan

Ialah yang selalu melindungi hambanya

Ialah yang menghanyutkan ketakutan itu

Sehingga aku sadar aku tidaklah sendiri

 

Merindukan kesederhanaannya

Hari ini, malam ini….
Aku merindukan tempat asalku yang nyaman
memang tak semewah tempat-tempat yang ku temui disini
Gedung-gedung tinggi dengan arsitektur yang indah
gedung-gedung berdinding kaca
tapi tidak disana….
Rumah-rumah dengan dinding tembok bata
atau bahkan sebagian masih berdinding anyaman bambu
Tapi disanalah kutemukan kedamaian
disini terasa seperti neraka
apa yang kubutuhkan disini memang tersedia
tapi aku merasa hidup didalam hutan
ketakutan…
sendirian…

Aku merindukan semilir angin pedesaan
disana tempat pertama ku melihat dunia
dikelilingi malaikat-malaikat dengan senyumnya
manusia-manusia dengan kepolosannya
selalu tampak keceriaan wajahnya
aku ingin pulaaang
aku ingin sejenak keluar dari neraka ini

Selamat Hari Ibu

Jum’at, 20 Desember kemarin aku menghadiri sebuah kajian muslimah di fakultasku. Peserta yang hadir memang tak banyak tapi ada beberapa fakultas lain yang hadir. Sebenarnya penanggungjawab kegiatan ini adalah salah satu teman dekatku, beberapa hari sebelumnya ia mengajakku untuk mengikuti kajian tersebut apalagi tema yang diambil saat itu adalah “The Power Of Mother”, yapz,, aku tertarik dengan tema ini.

 

Acara pun dimulai dengan pembawa acara dari temanku jurusan Teknik Kelautan, tak lupa diawali dengan do’a pembuka lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al – Qur’an. Selanjutnya acara yang ditunggu-tunggu yaitu kajian dengan tema yang aku sebutkan diatas oleh ustadzah Kurniawati (kalau tidak salah). Beliau terihat cantik dengan baju terusan warna biru tua dibalut jilbab dengan warna yang sama ditambah asesoris kacamata, suaranya lembut jika berkata, terlihat sosok ibu yang bijak.

 

Slide demi slide presentasi yang beliau tampilkan begitu menarik, dari cerita klasik zaman Rasulullah hingga beliau menceritakan bagaimana susahnya jadi ibu. Selama ini kita selalu menuntut ini-itu, kita sering mendapati ibu dengan omelan dan cerwetnya, namun itu semua akan kita rasakan setelah menjadi ibu.

 

Alhamdulillah kajian tersebut sedikit bisa membuka hatiku tentang ibu. Jujur saja, sejak kecil aku tidak pernah mengucapkan “selamat hari ibu”, bukan karena terlalu kerasnya hatiku namun karena kau malu untuk mengatakannya, entah kenapa aku juga tidak tahu bisa seperti itu. Lalu aku ingat satu tahun lalu untuk pertama kalinya aku mengucapkan itu kepada ibuku walaupun hanya lewat SMS, rasanya ada kebahagiaan tersendiri. Dari balasan pesan yang kukirim sepertinya ibu juga bahagia mendapat pesan ucapan dariku. Akupun bahagia, tindakan yang selama ini ingin aku lakukan akhirnya tersampaikan sudah.

 

Hari ini tanggal 22 Desember, yak.. Sekarang adalah Hari Ibu. Dari kemarin-kemarin aku sudah bermaksud memberi ucapan kepada ibuku tercinta, meskipun lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan lewat SMS.

“Selamat Hari Ibu :* I Love You” Kata-kata itu kukirim ke nomor ibu, setelah kutunggu lama ternyata belum ada balasan, mungkin ibu belum baca pesannya karena sibuk atau tidak mendengar nada pesan kalau ada SMS masuk, atau mungkin Hpnya sedang mati.

 

Kulihat pesan terkirim di Hpku, untuk memastikan apakah pesanku sudah benar-benar terkirim, ternyata masih pending. Kukirim lagi pesanku yang tadi ke nomor ibuku dan sekaligus ke nomor adikku, siapa tahu terkirim. Beberapa menit kemudian ibu membalas dengan nomor adikku. “terimakasih.-‘ anak ku sayang” hati anak mana yang tidak bahagia dengan itu, kemudian ada pesan masuk lagi “pye kabr? Spean? Semoga kesejahteraan terlimpahkan untk mu…, amiin ya robbal alamin”, Subhanallah… tiba-tiba mataku nerkaca-kaca membacanya. Andai saja aku bisa mengatakan ini langsung, dengan menyalami tangannya, mencium pipinya. Tak lupa ku balas SMSnya kalau aku sedang baik-baik saja, walaupun hari ini aku sebenarnya tidak baik-baik saja, sejak 2 hari yang lalu pencernaanku bermasalah ditambah lagi dengan akhir-akhir ini punggungku terasa panas dan sakit. Lebih baik aku sedikit berbohong, aku tak ingin ibu khawatir.

 

Ya Allah berikan ibuku kekuatan, lindungi ia, sayangi ia, berikan ia kesehatan dan umur panjang.

Ya Allah, aku takut jika nantinya aku tak dapat berbhakti kepada ibuku, bagaimana jika aku sudah berumahtangga nanti dan aku harus mengikuti kemauan suamiku? atau Jika aku yang mendahuluinya? Siapa yang merawatnya nanti?

 

 

I love You Ibu :* :*

Anakmu yang selalu menyayangimu

Jum’at, 20 Desember kemarin aku menghadiri sebuah kajian muslimah di fakultasku. Peserta yang hadir memang tak banyak tapi ada beberapa fakultas lain yang hadir. Sebenarnya penanggungjawab kegiatan ini adalah salah satu teman dekatku, beberapa hari sebelumnya ia mengajakku untuk mengikuti kajian tersebut apalagi tema yang diambil saat itu adalah “The Power Of Mother”, yapz,, aku tertarik dengan tema ini.

 

Acara pun dimulai dengan pembawa acara dari temanku jurusan Teknik Kelautan, tak lupa diawali dengan do’a pembuka lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al – Qur’an. Selanjutnya acara yang ditunggu-tunggu yaitu kajian dengan tema yang aku sebutkan diatas oleh ustadzah Kurniawati (kalau tidak salah). Beliau terihat cantik dengan baju terusan warna biru tua dibalut jilbab dengan warna yang sama ditambah asesoris kacamata, suaranya lembut jika berkata, terlihat sosok ibu yang bijak.

 

Slide demi slide presentasi yang beliau tampilkan begitu menarik, dari cerita klasik zaman Rasulullah hingga beliau menceritakan bagaimana susahnya jadi ibu. Selama ini kita selalu menuntut ini-itu, kita sering mendapati ibu dengan omelan dan cerwetnya, namun itu semua akan kita rasakan setelah menjadi ibu.

 

Alhamdulillah kajian tersebut sedikit bisa membuka hatiku tentang ibu. Jujur saja, sejak kecil aku tidak pernah mengucapkan “selamat hari ibu”, bukan karena terlalu kerasnya hatiku namun karena kau malu untuk mengatakannya, entah kenapa aku juga tidak tahu bisa seperti itu. Lalu aku ingat satu tahun lalu untuk pertama kalinya aku mengucapkan itu kepada ibuku walaupun hanya lewat SMS, rasanya ada kebahagiaan tersendiri. Dari balasan pesan yang kukirim sepertinya ibu juga bahagia mendapat pesan ucapan dariku. Akupun bahagia, tindakan yang selama ini ingin aku lakukan akhirnya tersampaikan sudah.

 

Hari ini tanggal 22 Desember, yak.. Sekarang adalah Hari Ibu. Dari kemarin-kemarin aku sudah bermaksud memberi ucapan kepada ibuku tercinta, meskipun lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan lewat SMS.

“Selamat Hari Ibu :* I Love You” Kata-kata itu kukirim ke nomor ibu, setelah kutunggu lama ternyata belum ada balasan, mungkin ibu belum baca pesannya karena sibuk atau tidak mendengar nada pesan kalau ada SMS masuk, atau mungkin Hpnya sedang mati.

 

Kulihat pesan terkirim di Hpku, untuk memastikan apakah pesanku sudah benar-benar terkirim, ternyata masih pending. Kukirim lagi pesanku yang tadi ke nomor ibuku dan sekaligus ke nomor adikku, siapa tahu terkirim. Beberapa menit kemudian ibu membalas dengan nomor adikku. “terimakasih.-‘ anak ku sayang” hati anak mana yang tidak bahagia dengan itu, kemudian ada pesan masuk lagi “pye kabr? Spean? Semoga kesejahteraan terlimpahkan untk mu…, amiin ya robbal alamin”, Subhanallah… tiba-tiba mataku nerkaca-kaca membacanya. Andai saja aku bisa mengatakan ini langsung, dengan menyalami tangannya, mencium pipinya. Tak lupa ku balas SMSnya kalau aku sedang baik-baik saja, walaupun hari ini aku sebenarnya tidak baik-baik saja, sejak 2 hari yang lalu pencernaanku bermasalah ditambah lagi dengan akhir-akhir ini punggungku terasa panas dan sakit. Lebih baik aku sedikit berbohong, aku tak ingin ibu khawatir.

 

Ya Allah berikan ibuku kekuatan, lindungi ia, sayangi ia, berikan ia kesehatan dan umur panjang.

Ya Allah, aku takut jika nantinya aku tak dapat berbhakti kepada ibuku, bagaimana jika aku sudah berumahtangga nanti dan aku harus mengikuti kemauan suamiku? atau Jika aku yang mendahuluinya? Siapa yang merawatnya nanti?

 

 

I love You Ibu :* :*

Anakmu yang selalu menyayangimu

Jum’at, 20 Desember kemarin aku menghadiri sebuah kajian muslimah di fakultasku. Peserta yang hadir memang tak banyak tapi ada beberapa fakultas lain yang hadir. Sebenarnya penanggungjawab kegiatan ini adalah salah satu teman dekatku, beberapa hari sebelumnya ia mengajakku untuk mengikuti kajian tersebut apalagi tema yang diambil saat itu adalah “The Power Of Mother”, yapz,, aku tertarik dengan tema ini.

 

Acara pun dimulai dengan pembawa acara dari temanku jurusan Teknik Kelautan, tak lupa diawali dengan do’a pembuka lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al – Qur’an. Selanjutnya acara yang ditunggu-tunggu yaitu kajian dengan tema yang aku sebutkan diatas oleh ustadzah Kurniawati (kalau tidak salah). Beliau terihat cantik dengan baju terusan warna biru tua dibalut jilbab dengan warna yang sama ditambah asesoris kacamata, suaranya lembut jika berkata, terlihat sosok ibu yang bijak.

 

Slide demi slide presentasi yang beliau tampilkan begitu menarik, dari cerita klasik zaman Rasulullah hingga beliau menceritakan bagaimana susahnya jadi ibu. Selama ini kita selalu menuntut ini-itu, kita sering mendapati ibu dengan omelan dan cerwetnya, namun itu semua akan kita rasakan setelah menjadi ibu.

 

Alhamdulillah kajian tersebut sedikit bisa membuka hatiku tentang ibu. Jujur saja, sejak kecil aku tidak pernah mengucapkan “selamat hari ibu”, bukan karena terlalu kerasnya hatiku namun karena kau malu untuk mengatakannya, entah kenapa aku juga tidak tahu bisa seperti itu. Lalu aku ingat satu tahun lalu untuk pertama kalinya aku mengucapkan itu kepada ibuku walaupun hanya lewat SMS, rasanya ada kebahagiaan tersendiri. Dari balasan pesan yang kukirim sepertinya ibu juga bahagia mendapat pesan ucapan dariku. Akupun bahagia, tindakan yang selama ini ingin aku lakukan akhirnya tersampaikan sudah.

 

Hari ini tanggal 22 Desember, yak.. Sekarang adalah Hari Ibu. Dari kemarin-kemarin aku sudah bermaksud memberi ucapan kepada ibuku tercinta, meskipun lagi-lagi aku hanya bisa mengucapkan lewat SMS.

“Selamat Hari Ibu :* I Love You” Kata-kata itu kukirim ke nomor ibu, setelah kutunggu lama ternyata belum ada balasan, mungkin ibu belum baca pesannya karena sibuk atau tidak mendengar nada pesan kalau ada SMS masuk, atau mungkin Hpnya sedang mati.

 

Kulihat pesan terkirim di Hpku, untuk memastikan apakah pesanku sudah benar-benar terkirim, ternyata masih pending. Kukirim lagi pesanku yang tadi ke nomor ibuku dan sekaligus ke nomor adikku, siapa tahu terkirim. Beberapa menit kemudian ibu membalas dengan nomor adikku. “terimakasih.-‘ anak ku sayang” hati anak mana yang tidak bahagia dengan itu, kemudian ada pesan masuk lagi “pye kabr? Spean? Semoga kesejahteraan terlimpahkan untk mu…, amiin ya robbal alamin”, Subhanallah… tiba-tiba mataku nerkaca-kaca membacanya. Andai saja aku bisa mengatakan ini langsung, dengan menyalami tangannya, mencium pipinya. Tak lupa ku balas SMSnya kalau aku sedang baik-baik saja, walaupun hari ini aku sebenarnya tidak baik-baik saja, sejak 2 hari yang lalu pencernaanku bermasalah ditambah lagi dengan akhir-akhir ini punggungku terasa panas dan sakit. Lebih baik aku sedikit berbohong, aku tak ingin ibu khawatir.

 

Ya Allah berikan ibuku kekuatan, lindungi ia, sayangi ia, berikan ia kesehatan dan umur panjang.

Ya Allah, aku takut jika nantinya aku tak dapat berbhakti kepada ibuku, bagaimana jika aku sudah berumahtangga nanti dan aku harus mengikuti kemauan suamiku? atau Jika aku yang mendahuluinya? Siapa yang merawatnya nanti?

 

 

I love You Ibu :* :*

Anakmu yang selalu menyayangimu

Indonesia di sidang COMSAR IMO

Info Kapal

Posted by Capt. Hadi Supriyono, MM, M.Mar

1. Pada tanggal 7 – 11 Maret 2011, International Maritime Organization (IMO) telah menyelenggarakan sidang Sub-committee on Radiocommunication and Search and Rescue sesi ke 15 (COMSAR 15). Sidang ini adalah sidang regular IMO yang diselenggarakan satu kali setiap tahun. Hasil sidang COMSAR akan dilaporkan ke sidang Maritime Safety Committee (MSC) untuk pengesahan.

2. Tugas Sidang COMSAR adalah membahas dan menyiapkan konsep2 perobahan konvensi, konsep circular, dan konsep text assembly resolution, tentang pengaturans terkait dengan komunikasi radio maritime khususnya GMDSS (Global Maritime Distress and Safety System) dan pengaturans terkait dengan prosedur dan operasi pencarian dan penyelamatan terhadap jiwa manusia di laut (SAR). Sidang COMSAR juga menyiapkan konsep posisi IMO pada sidang2 di ITU (International Telecomunication Union), IMSO (International Mobile Satellite Organization) dan ICAO/IMO Join Working Group.

3. Konvensi-konvensi dan Code IMO yang terkait dengan tugas sub-committee COMSAR adalah International Convention on…

Lihat pos aslinya 280 kata lagi