RRCM dan Secuil kisah SMA

Entah mengapa akhir-akhir ini aku sering mimpi bertemu dengan teman SD, SMP, SMA, maupun hanya teman sepermainan waktu masih kecil. meski dalam mimpi tersebut terkesan tidak jelas dan aneh bila di nalar, tapi… ya begitulah mimpi.

Apakah karena aku jarang menghubungi mereka? mungkin saja. Apa sebenarnya aku merindukan mereka atau sebaliknya mereka yang merindukanku? bisa jadi. Mungkin karena kesibukanku di dunia kampus sehingga aku lupa untuk tidak menghuungi mereka, tetapi juga karena aku sering tidak punya pulsa untuk sekadar telpon atau sms menanyakan kabar, atau sedikitnya hanya menyapa.

Melihat beberapa teman SMA yang namanya selalu nongol di beranda facebook jadi ingat masa-masa ketika masih sekolah. Sudah hampir dua tahun yang lalu kebersamaan kami melewati hari-hari penuh keceriaan. Kami memiliki sifat yang berbeda tapi bisa saling mengisi biarpun harus ada beberapa yang mengalah.

RRCM (Republik Rakyat Cinta Makan), sebuah komunitas pencinta makan, hehe. Entah kapan kata ini digunakan, sepertinya saat masih kelas X SMA. Saat itu kami berada di kelas X-4, kelas yang terkenal kenakalannya selama hampir 5 tahun berturut-turut. Memang benar sih, bahkan ada beberapa teman kami yang akhirnya dikeluarkan karena akumulasi poin yang melewati batas. RRCM sendiri terdiri dari Bety, aku, Tinuk, Opi, dan Jentit (nama panggilan samaran)

Beranjaknaik kelas XI mulai pemisahan untuk penjurusan. Tanpa disengaja RRCM berkumpul lagi di kelas XI IPA 1 yang dominannya di isi anak-anak pintar, tapi yang tidak pintar pun juga ada agar tidak terjadi kecemburuan dari kelas lain (mungkin).

Sampai kelas XII kami masih satu kelas dan masih jadi satu teman sepermainan (kalau dibilang gank terlalu mainstream). menginjak kelas XII sudah mulai ada jam tambahan untuk mempersiapkan UNAS. Setiap hari kami membawa bekal untuk makan siang, karena kalau beli terlalu lama antri sedangkan waktu istirahat sekitar 30 menit saja. Dengan bekal yang berbeda kami saling berbagi satu sama lain. Ada yang membawa lauk tempe kecap, telur dadar, ikan, bahkan Tinuk dan Jentit sering membawa lauk belut hasil tangkapan bapaknya di sawah. Setiap makan siang pasti ada celetukan “Ayo, mangan bareng. nek kita lulus durung mesti iso mangan bareng”.

Hal yang selalu aku rindukan. Sebagai anak SMA, kenakalan masih dianggap wajar. Sering menggunjing guru, menggunjing teman, terlambat, dan paling suka kalau jam kosong. Tak terkecuali kami 😀 . Meskipun begitu kami termasuk siswa yang aktif di kelas. Apalagi kami memiliki Wali Kelas yang sabar, Bu Fitri namanya. Kami sekelas memanggilnya dengan sapaan “Bunda” . Guru yang mengajar Bahasa Inggris ini sangat kami sayangi (RRCM), beliau begitu sabar menghadapi murid-muridnya. Kami sangat dekat dengan beliau arena dulu waktu masih kelas X juga menjadi wali kelas. yah,, dengan beliau nilai bahasa Inggrisku selalu diatas rata-rata (bukannya sombong).

Sebenarnya masih banyak kenangan SMA, ini hanya secuil dari kisah-kisah anak remaja di sekolahnya. Semoga teman-teman dan Guru-guruku selalu diberkahi Allah. Aamiin

Iklan

Panji – Kucingnya Racana

Suatu hari di Sanggar Pramuka Racana Sepuluh Nopember (M-Web Lt.2) di datangi seekor kucing dengan warna putih dan abu-abu di bagian punggungnya. Sebenarnya banyak kucing di Gedung M-web yang keluar-masuk sanggar, tapi kali ini berbeda. Kucing yang satu ini lucu, gemuk, dan yang pasti menggemaskan. Mas Alex yang suka dengan kucing langsung saja menggendong dan membelai si kucing tersebut.

Lama-kelamaan, Si Kucing jadi sering bermain ke sanggar untuk sekadar tidur atau hanya mencari perhatian, pun demikian lama-lama penghuni sanggar banyak yang suka sama kucing, sehingga bingung memberi nama yang cocok untuk kucingnya. Iqbal, salah satu anggota Racana – anak sanggar memanggil nama kucing itu dengan nama “Panji”, nama yang sangat cocok. Sebenarnya Panji adalah nama salah satu anggota Racana juga. Jika dipikir-pikir, nama itu memang sangat cocok untuk kucing, bukannya menyamakan temanku dengan kucing tapi dilihat dari penampilan kucingnya sendiri sangat pas kalau dipanggil Panji.

Gambar

Karena Gedung M-Web akan direnovasi menjadi pusat Bank maka dengan terpaksa sanggar kami dipindah ke Gedung SCC Lt.2. Meskipun begitu, Panji tetap saja sering datang ke sanggar kami yang baru. Sepertinya dia sudah mengenali pemiliknya (pemiliknya ya anggota Racana) karena kucing memang bisa mengenali dari bau pemiliknya. Bahkan beberapa anggota ada yang setia membelikan Panji makanan. Terkadang dibelikan nasi dan pindang, kadang juga dibelikan makanan kucing sereal.

Panji juga termasuk kucing yang nakal, biasanya suka pipis sembarangan bahkan p*p juga sembarangan hingga membuat Gedung SCC bau karena kotorannya. Hewan pun butuh pendamping tak terkecuali si Panji. Dia punya kekasih yang merupakan kucing SCC juga, warnanya hitam dan kurang terawat, meskipun begitu sepertinya Panji cinta sekali dengan si Hitam. Pernah suatu hari Mas Totok melihat Panji rela membagi makanannya dengan si Hitam yang sedang hamil.

Sampai sekarang Panji masih menjadi kucingnya Sanggar, tapi anak-anak sanggar paling risih kalau sedang makan diganggu. Namun malam ini aku makan dengan aman tanpa diganggu Panji, padahal dia tahu aku sedang makan dengan telur. Malah dia berusaha mengganggu anak-anak yang sedang makan didalam sanggar. Dia menunggu didepan pintu yang ditutup, berharap segera dibuka. Mungkin dia juga tahu kalau aku belum makan makanya membiarkan aku makan dengan tenang. hehe 🙂

Gambar

Seperti Daun Gugur

 

Gambar

Bertahan,
Tersesat..
Kala amarah menghampiri
Menahan susah, sesakkan dada
Tiada ruang untuk melepaskan belenggu
Air mata tak mampu tunjukkan wujudnya
entah malu, 
ataukah takut
Mencoba terus bersabar
dan bersabar
Kata hati tak bisa dipungkiri
harus bisa, tetap  harus bisa
Dunia seolah tak mau tahu 
mereka diam namun tak berpikir 
hanya menunggu waktu.. Tak mungkin esok
Bisa jadi satu tahun lagi
Ada banyak jalan sebenarnya
Aku takut tersesat lagi, jatuh dalam jurang
Aku hanya diam… merenung.. berangan

 
aku berjalan dibawah langit tak berbatas
tanpa arah dan tujuan
terus melangkah dan terus melangkah
apa yang ada didepanku?
entahlah,
mataku terpejam meski terbuka
gelap-terang sama saja
semuanya kosong

Aku bertanya pada angin,
dimanakah aku sekarang?
mereka diam 
ku tanya pada pohon,
diam pula

seperti daun gugur
sudah tak ada daya untuk bertahan
mungkin sudah tutup usia
atau mereka sendiri yang melepaskan

 
Surabaya, 16-17 Februari 2013

Meutup senja

Bambu-bambu bersenandung merdu

berbisik-bisik tak terjemah

gadis berjalan dengan sandal jepitnya

melangkahkan kakinya di pematang sawah

angin lembut menerpa jilbabnya

membelai halus wajahnya

sore yang biru . .

biarlah langit menutup senjanya tanpa matahari

tanpa semburat-semburat merah mengiringi

biarlah langit menutup tabir dengan tenang 

biarkan mendung menemani langit yang sendu

padi-padi hijau melantunkan lagunya

lagu selamat datang pada penguasa malam

gadis beranjak dalam damainya

salam perpisahan indah dihaturkan 

puji syukur nikmat Tuhan